Pertemuan itu yang membuatku sepi,
diantara angin malam yg slalu menyapa,
pondasi bumi sebagai bukti,
jadi saksi bisu kaki penjarah dunia.
Telah ku mengenalmu sekian jauh,
aku tak pernah jenuh maupun rapuh,
tetap berlari menyirami hatimu kian lusuh,
ku tepis letih penatku kala pikirku rusuh,
Masih saja ku membela,
walau bagai telur di ujung tanduk,
dirimu bagian jiwa,
arti kisahmu ku jaga dan ku peluk.
Kini tiada lagi dinding kaku,
sandaran hati tempat bersadu,
setelah kepergianmu,
meninggalkan luka membeku.
Kepergian
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar